PERAWAT TRAVELER

Menulis Sebagai Bukti Perawat Itu Ada dan Hidup Selamanya

Post Top Ad

Agustus 13, 2017

Cara Berobat Menggunakan Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan

by , in

Kadang kita bingung bagaimana cara berobat menggunakan pelayanan peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, apa saja yang harus dibawa, bagaimana prosedurnya, dan bla bla bla bla sebagainya. 

Karena ketidaktahuan itu, banyak orang yang mengurungkan niatnya untuk menggunakan pelayanan ini. Atau ada juga yang harus bolak-balik ke tempat fotokopi karena berkas yang tidak sesuai dengan persyaratan.

Sebenarnya bagaimana sih alur pelayanan peserta BPJS Kesehatan? Di mana saja tempat yang bisa menerima pelayanan BPJS?

Alur pelayanan peserta BPJS kesehatan di RSUD ZA Aceh

Baiklah, Perawat Traveler akan berbagi dengan sahabat PeTrav yang ingin mengetahui informasi ini.

Pelayanan BPJS Kesehatan ini bisa diterima di klinik dokter yang telah bekerja sama dengan pihak BPJS, puskesmas, rumah sakit kabupaten dan daerah.

Untuk di klinik dan pusekesmas, mungkin tidak terlalu ribet ya, karena pasiennya tidak terlalu banyak. Tapi bagaimana kalau sudah ke tingkat rumah sakit, pasti antriannya mengular kerena terlalu banyak pasien.

Jadi, untuk menghemat waktu dan tenaga, kita perlu tahu jalurnya.

Jika sahabat PeTrav baru pertama kali berobat di rumah sakit umum menggunakan layanan BPJS, maka ambillah daftar antrian di loket pasien baru. Tapi jika sudah beberapa kali berobat, maka dihitung sebagi pasien lama dan nomor antriannya berada di loket pasien lama.

Apa-apa saja yang harus dilengkapi?

Sahabat PeTrav harus membawa fotokopi rangkap satu persyaratan berikut.

1. Kartu tanda penduduk (KTP)

2. Kartu keluarga (KK)

3. Surat rujukan peserta BPJS dari puskesmas atau klinik, 

4. Kartu BPJS atau Askes 

Setelah itu minta nomor antrian pada petugasnya dan sebutkan apakah sahabat PeTrav pasien baru atau lama. Karena nomor antrian dan loketnya berbeda antara pasien baru dan lama.

Nomor antriannya dikasih bersamaan dengan berkas yang sudah disiapkan ke loket registrasi

Tunggulah sampai nomor antriannya dipanggil dan berikan kepada petugas loket berkas yang telah disediakan tadi, saat tiba giliran antrian sahabat PeTrav dipanggil.

Bagi pasien baru akan mendapatkan kartu pasien dan nomor identitasnya yang dikeluarkan oleh rumah sakit, di mana tempat kita berobat. Jadi, nanti pada pengobatan berikutnya tidak perlu lagi membawa kartu BPJS, cukup memperlihatkan kartu pasien tersebut.

Kartu berobat pasien yang disediakan pihak rumah sakit

Kartu tersebut berlaku di semua instansi yang ada di rumah sakit tersebut. Misalnya ketika mengurus kamar pasien untuk rawat inap, periksa darah, USG, rontgen dan sebagainya.

Selama sahabat PeTrav menggunakan pelayanan di rumah sakit tersebut, maka kartu itu wajib dibawa.

Setelah itu kemana lagi? 

Alurnya belum selesai ne. Setelah antri di loket medical record, sahabat PeTrav mendapatkan beberapa kertas yang berisi identitas dan nama poli klinik yang akan dituju.

Kertas tersebut nantinya dikasih ke loket perawat untuk diperiksa dan ditentukan dokter yang menanganinya. Proses ini memakan waktu beberapa lama karena jika dokternya belum tiba, pasien diharuskan untuk menunggu sampai dokternya datang. 

Sistemya tetap sama menggunakan cara antrian, siapa yang duluan datang itu yang pertama dipanggil. Mungkin sahabat PeTrav harus menunggu dua, tiga jam atau bahkan setengah hari supaya bisa bertatap muka dengan dokter.

Hal ini dikerenakan biasanya dokter di poli tersebut harus mengunjugi pasiennya juga yang berada di ruang rawat inap. Makanya si dokter lama masuk ke ruang poli klinik.

Pulang atau dirawat?

Setelah konsultasi dengan dokter, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama jika penyakit sahabat PeTrav tidak begitu mengkhawatirkan dan bisa dirawat di rumah, maka dokter akan memberikan resep obat, atau pun menganjurkan untuk pemeriksaan lanjutan seperti pemeriksaan darah, USG, Rontgen dan pemeriksaan penunjang lainnya. 

Hasil konsultasi dokter dituliskan di kertas ini dan dilanjutkan ke tindakan berikutnya.

Pilihan kedua ialah harus dirawat inap jika penyakit yang diderita cukup mengkhawatirkan dan harus segera penanganan dokter secara intensif. 

Tugas keluarga berikutnya ialah mengurus adminitrasi untuk pasien rawat inap. Tentunya juga harus menyediakan berkas persyaratan rawat inap.

Sahabat PeTrav harus ke tempat ini untuk mengurus kamar rawat inap pasien.

Sahabat PeTrav harus ke admission center pendaftaran rawat inap untuk mengurus kamar pasien. Data yang harus dilengkapi ialah:

1. Surat pengatar rawat inap dari dokter

2. Kartu keluarga atau KTP

3. Surat rujukan peserta BPJS

4. Kartu berobat pasien

Semua persyaratan di atas harus difotokopi rangkap lima dan diberikan ke loket pendaftaran rawat inap. 

Kita juga harus menunggu sekitar 15-20 menit untuk mendapatkan buku kuning yang lengkap dengan biodata pasien, dan berbagai catatan dokter serta perawatan lainnya.

Buku catatan status pasien dan terapi pengobatan selama dirawat.

Setelah semuanya selesai, baru lah pasien bisa masuk ke kamar yang telah ditentukan dan menjalani perawatan di ruangan tersebut. Buku kuning itu akan dipegang oleh perawat ruangan sebagai catatan perkembangan pasien selama dirawat.

Semua alur yang perawat traveler sampaikan di atas berdasarkan prosedural rumah sakit yang ada di kota perawat traveler. Mungkin sistem rumah sakit di kota sahabat PeTrav lain lagi, tergantung kebijakan masing-masing rumah sakit.

Ibarat pepatah lama, di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung

Kalau perawat traveler bilang di mana tempat berobat, ikutilah aturan rumah sakitnya. Sebaiknya jangan sampai masuk rumah sakit, tentunya harus jaga kesehatan ya Sahabat PeTrav.
Juli 31, 2017

Samakah Anak Autis dengan Keterbelakangan Mental?

by , in

Dua minggu yang lalu tepatnya pada tanggal 17 Juli 2017, aku merasa malu dengan diriku sendiri. Pasalnya aku menganggap sama anak yang menderita autis dengan keterbelakangan mental. 

Mungkin kebanyakan orang mengiranya ini hal yang sama dan orang awam melebelnya sebagai anak idiot. Hingga aku ditegur oleh seorang penderita difabel dan menjelaskan terkait anak autis.

Ceritanya begini, selepas acara di sebuah hotel di waktu makan siang, aku semeja dengan salah seorang penderita difabel. Saat itu sedang viral video aksi bully yang dilakukan oleh mahasiswa, terhadap anak autis yang diunggah pada tanggal 16 Juli 2017.

Video itu diberitakan di sebuah stasiun televisi, kami pun menonton pemberitaan tersebut. Kemudian muncul pertanyaan dari salah seorang temanku.

Autis itu apa sih?”

“Autis itu kayak keterbelakangan mental gitu” jawabku secara gampang tanpa referensi. 

Aku langsung ditegur oleh seorang Ibu yang menderita difabel, kebetulan duduk di sebelahku.

Bukan, mereka tidak sama dengan anak keterbelakangan mental. Anak autis mengalami gangguan perkembangan saraf dan perilakunya terbatas yang sering berulang-ulang”.

Ibu itu menjelaskan panjang lebar terkait autisme. Aku merasa malu karena menganggap sama anak autis dengan keterbelakangan mental. Aku malu dengan titel sarjanaku sebagai perawat yang seharusnya lebih tahu banyak terkait anak-anak berkebutuhan khusus.

Sepulang dari situ aku bertekad untuk belajar kembali, dan membuka beberapa referensi terkait hal ini.

Apa itu Autism? 

Autism adalah gangguan perkembangan saraf yang kompleks dan bukanlah suatu penyakit bawaan sejak lahir. Gejala autis ditandai dengan kesulitan dalam interaksi sosial, komunikasi, perilaku terbatas, dan berulang-ulang.

Mereka lebih banyak diam, suka menyendiri, sulit mengekspresikan keinginannya, memiliki ritual atau kesibukan sendiri, dan saat diganggu maka mereka akan menjadi sangat marah, menangis, menjerit tanpa bisa dihentikan sampai mereka lelah dan ketiduran. 

Di mata saya ia adalah anak yang sempurna. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, dan senyuman manis membuatnya makin ganteng. Ia anak yang pendiam dan jarang menangis. Namanya Kaka, dan ia adalah anak pertama saya sekaligus salah satu anak autis”.

Itulah yang dituturkan oleh orang tua dari anak autis di sebuah curhatannya di tulisan ini.

Ciri spesifik anak autis

Pada umumnya gejala autis dapat dilihat sebelum usia tiga tahun dan karena ini bukan penyakit, maka penanganannya bukan dengan obat melainkan terapi dalam jangka panjang.

Anak autis tidak bermasalah dengan Intelligence Quoetion (IQ), bahkan ada yang melebihi dari rata-rata anak pada umumnya. Hanya saja mereka terkendala dengan masalah sensorik yang membuat mereka lebih sensitif terhadap rangsangan dari luar.

Apa Bedanya dengan Keterbelakangan Mental?

Keterbelakangan mental atau retardasi mental (RM) adalah suatu keadaan yang fungsi kecerdasan umumnya/ IQ berada di bawah rata-rata, biasanya kurang dari 70.


Anak RM dinilai dari tiga komponen, yaitu fungsi intelektual yang diukur dengar pertanyaan inteligensi. Kemudian fungsi kekuatan dan kelemahan yang ditentukan pada 10 area adptif yang berbeda, meliputi komunikasi, perawatan diri, kehidupan rumah tangga, keterampian sosial, waktu luang, kesehatan dan keamanan, tujuan diri, kemampuan akademik, kegunaan dalam masyarakat, dan pekerjaan (Frederick dan Williams, 1998; Schalock dkk, 1994).

Penyebab RM adalah trauma sebelum dan sesudah lahir, genetik, biokimia, dan infeksi. Biasanya sudah terdeteksi sejak lahir dari wajahnya, terutama pada kasus sindrom down. Karakteristik wajah seperti sudut luar mata naik hingga menyipit, hidung dan mulut kecil, serta memiliki kelemahan pada fungsi lain, misalnya pada jantung.

Gejala yang significant dari anak RM tergantung dari tingkatan RM nya. Anak RM ringan mempunyai IQ (52-68) dan kemampuan membacanya baru bisa di kelas empat atau enam. Meskipun kesulitan dalam membaca, namun mereka dapat mempelajari kemampuan pendidikan dasar yang diperlukan dala kehidupan sehar-hari.


Anak RM moderat mempunyai IQ (36-51) dan sangat terlihat jelas mengalami keterlambatan berbicara. Mereka baru bisa berbicara pada usia 6 tahun dan tidak mengalami perkembangan dalam membaca atau aritmatika secara fungsional.

Anak RM berat hanya mempunyai IQ (20-35, bahkan ada 19 atau kurang). Biasanya tidak bisa berjalan dan berbicara. Angka harapan hidup untuk anak RM berat kemungkinan lebih pendek, tergantung kepada penyebab dari beratnya RM tersebut. Semakin berat Rmnya maka semakin kecil angka harapan hidup.

Referensi 

Breaktime. Autis dan Down Syndrome, Sering Dianggap Sama Padahal Beda. Sumber dari : https://portal.axa.co.id/direct/Tips/Detail/autis-dan-down-syndrome-sering-dianggap-sama-padahal-beda

Jevuska. (2012). Autisme-Pengertian, Penyebab, Gejala, Ciri & Terapi. Sumber dari : https://www.jevuska.com/2012/12/29/autisme-pengertian-penyebab-gejala-ciri-terapi/

Spesialis Info. Penyebab Keterbelakangan Mental. Sumber dari: http://www.spesialis.info/?penyebab-keterbelakangan-mental,428

Swastantika, D. Anugrah Tersembunyi – Hidup Bersama Anak Autis. Sumber dari : https://id.theasianparent.com/hidup-bersama-anak-autis/4/

Wicaksono, B.D. (20017). 10 Perasaan Orang Autis yang Mereka Harapkan Kamu Mengerti. Sumber dari: https://science.idntimes.com/discovery/bayu/10-perasaan-orang-autis-yang-mereka-harapkan-kamu-mengerti/full

Wong, dkk. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediaatrik. Jakarta : EGC.



Juli 09, 2017

Batuk Efektif

by , in
Salam Sehat Sahabat Perawat Traveler (PeTrav)

Masih dalam suasana lebaran ni ya! Kalau gitu PeTrav mohon maaf lahir dan batinlah buat para pembaca Perawat Traveler.

Sudah lama ya blog ini nggak update informasi kesehatan dan dunia keperawatan. Maklum PeTrav pulang kampung, jadi susah koneksi internetnya.

Kali ini PeTrav akan kembali menyajikan informasi kesehatan yang perlu diketahui oleh Sahabat PeTrav, karena dengan adanya informasi inilah dapat megubah perilaku sehat kita, sehingga tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyakit.

Bukankah mencegah itu lebih baik daripada mengobati?

Postingan kali ini, PeTrav akan membahas tentang Batuk Efektif. Ada ya batuk efektif?

Ada dong, makanya jangan asal batuk saja, yang ada malah capek dan menguras energi karena sekret (dahak)nya tidak keluar. Jadi untuk mengefektifkan batuk, ada tekniknya.

Seperti biasa, sebelum membahas lebih lanjut terkait batuk efektif ini, PeTrav akan melampirkan media promosinya terlebih dahulu berupa leaflet, supaya enak dibaca dan dipahami.

Sisi luar leaflet Gout Athritis
Sisi dalam leaflet Gout Athritis


Untuk informasi lebih lanjutnya terkait materi ini, nanti akan dibahas pada rubik Asuhan Keperawatan, dan Tips Keperawatan. Bersabar dulu ya!

Note : Bagi Sahabat PeTrav yang ingin mendapatkan materi tentang Batuk Efektif, silahkan tinggalkan komentar di blog ini.

Salam Senyum Sehat,

YELLI SUSTARINA
Mobile -- 0852 6008 0834 -- IG @yell_saints -- twitter @yellisustarina -- Line 085260080834
Berdomisili di Jalan K. Nago -- Lampaseh Aceh -- Meuraxa -- Kota Banda Aceh. 
Juni 08, 2017

Cara Mengobati Nyeri Sendi pada Asam Urat Tanpa Menggunakan Obat Kimia

by , in
Ilustrasi Nyeri Sendi pada Asam Urat
Salam sehat sahabat Perawat Traveler (PeTrav)

Hari ini PeTrav akan membahas lebih lanjut tentang penyakit Gout Athritis atau yang biasa disebut dengan asam urat.

Hal yang sangat mengganggu pada penyakit ini ialah rasa nyeri pada sendi yang tidak bisa tertahankan. Sangat menyebalkan, bahkan jika kadar asam urat terus meningkat, akan terlihat kemerahan dan bengkak pada sendi.

Yang mengalami asam urat pasti tahu deh bagaimana rasa nyerinya, sehingga dapat mengganggu aktivitas keseharian.

Nyeri ini muncul karena penumpukan kristal-kristal asam urat pada persendian, yang berasal dari kelebihan asam urat di dalam darah. Nyeri tersebut dapat bersifat sistemik atau menyeluruh yang menyerang beberapa sendi, sehingga menyebabkan kerusakan pada tulang sendi.

Nah, ketika nyeri tersebut datang biasanya dokter memberikan obat-obat anti nyeri berupa Anti Inflamasi Non-Steroid (OAINS). Tapi obat anti nyeri ini memiliki efek samping yang serius yaitu pendarahan pada saluran cerna. Risiko tersebut akan semakin besar seiring dengan tingginya dosis, pemakaian campuran, dan usia penderita.

Ilustrasi Obat Anti Nyeri

Tak jarang juga orang yang menderita asam urat, karena sering mengkonsumsi obat anti nyeri akhirnya terkena asam lambung. Jadi berabekan, mau sembuh, eh.., dapat penyakit lain.

Kompres Hangat Jahe

Jadi, bagaimana juga sih cara mengobati nyeri asam urat ini?

Sahabat PeTrav jangan sekali-kali memijat bagian yang sakit pada asam urat, karena dapat menyebarkan kristal-kristal asam urat di dalam darah. Akibatnya bukan berkurang nyerinya, tapi justru semakin meradang yang mengakibatkan sendinya membengkak dan memerah.

Solusi yang tepat untuk mengatasinya ialah dengan cara mengompresnya menggunakan jahe hangat.
Parutan Jahe
Jahe bermanfaat untuk mengurangi nyeri pada asam urat karena jahe memiliki sifat pedas, pahit dan aromatic dari olerasin seperti zingeron, gingerol dan shogaol.

Olerasin memiliki potensi anti inflamasi, analgetik dan antioksidan yang kuat. Sedangkan gingerol dan shagaol dapat menghambat sintesis progtaglandin sehingga nyeri reda atau radang berkurang.

Kandungan air dan minyak tidak menguap pada jahe berfungsi sebagai enhancer yang dapat meningkatkan permeabilitas olerasin menembus kulit tanpa menyebabkan iritasi atau kerusakan hingga ke sirkulasi perifer.

Cara Membuat Kompres Hangat Menggunakan Jahe
Alat dan bahan
1.  Jahe 100 gram
2.  Parutan
3.  Kain kompres


Cara membuat
1. Sediakan jahe 100 gr yang diparut
2. Sediakan air hangat (40ºC-50ºC)
3. Masukkan jahe yang sudah diparut ke dalam kain
4. Celupkan pada air hangat
5. Kompres pada daerah yang nyeri selama 20 menit.
6. Lakukan secara berulang sampai nyeri pada sendi hilang.

Itu dia sahabat PeTrav yang bisa dilakukan untuk mengurangi nyeri sendi pada asam urat, tanpa mengunakan obat. Praktiskan,! Jadi, tidak perlu lagi sering-sering menggunakan obat kimia. Karena sebenarnya obat itu racun bagi tubuh kita.



Referensi

Junaidi. (2008). Rematik dan asam urat. Jakarta : Gramedia.

Listyarni, A.D., & Purnamasari, S.D.I. (2015). Kompres Air Rendaman Jahe Dapat Menurunkan Nyeri Pada Lansia Dengan Asam Urat di Desa Cengkalsewu Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati. Jurnal Keperawatan dan Kesehatan. 01.04. 19-27.

Rusnoto, Cholifah, N dan Retnosari I. (2015). Pemberian kompres hangat memakai jahe untuk meringankan skala nyeri pada pasien asam urat di desa Kedungwungu Kecamatan Tegowanu Kabupaten Grobogan. JIKK.  06. 01.


Juni 06, 2017

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gout Athritis

by , in
Ilustrasi : Peradangan pada sendi 
A.  Definisi

Gout bisa diartikan sebagai sebuah penyakit, karena terjadinya penumpukan asam urat dalam tubuh secara berlebihan, baik akibat produksi yang meningkat, pembuangan yang menurun, atau akibat peningkatan asupan makanan kaya purin (Naga 2012, hal 112).

Gout athritis yang biasa disebut sebagai penyakit asam urat merupakan penyakit yang diakibatkan oleh penumpukan kristal-kristal asam urat, pada persendian yang berasal dari kelebihan kadar asam  urat di dalam darah.

Penyakit Gout Athritis di Indonesia mendudki urutan kedua terbanyak setelah penyakit osteoartritis (OA), yang biasa dikenal dengan penyakit perkapuran sendi. Pengidap terbanyak penyakit ini adalah laki-laki usia pertengahan antara 40-50 tahun.  Sedangkan kadar asam urat perempuan umumna tetap rendah, dan baru meningkat setelah menopouse.

Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan tingginya kadar asam urat di dalam darah. Umumnya kadar asam urat normal pada laki-laki ialah 3,5 – 7 mg/dl, dan perempuan 2,6 – 6 mg/dl. Namun karena adanya peningkatan asam urat di dalam darah, maka saat dilakukan pemeriksaan, pasien yang menderita asam urat melebihi angka normal tersebut.

B. Etiologi

Menurut Mansjoer (2012), Gejala artritis akut disebabkan oleh reaksi inflamasi jaringan terhadap pembentukan kristal monosodium urat monohidrat, karena itu dilihat dari penyebabnya, penyakit ini termasuk dalam golongan metabolik.

Kelainan ini berhubungan dengan gangguan kinetik asam urat hiperurisemia. Hiperuresemia pada penyakit ini terjadi karena :

1.  Pembentukan asam urat yang berlebihan
a.  Gout primer metabolik, disebakan sintesis langsung yang bertambah
b.  Gout sekunder metabolik, disebabkan pembentukan asam urat berlebihan karena penyakit lain seperti leukimia.

2.  Kurangnya pengeluaran asam urat melalui ginjal
a.  Gout primer renal, terjadi karena gangguan ekskresi asam urat ditubuh distal yang sehat, penyebab ini tidak diketahui.
b.  Gout sekunder renal, disebabkan oleh kerusakan ginjal, misalnya pada gromerulonefritis
c.   Perombakan dalam usus yang berkurang. Namun, secara klinis hal ini tidak penting.

Sedangkan menurut Sustrani (2005), faktor yang berpengaruh sebagai penyebab asam urat adalah:

1.  Faktor keturunan
2.  Diet tinggi protein dan makanan kaya senyawa purin lainnya seperti daging, makanan laut, kacang-kacangan, bayam, jamur dan kembang kol
3.  Akibat konsumsi alkohol berlebihan
4.  Hambatan dari pembuangan asam urat karena penyakit tertentu, terutama gangguan ginjal
5.  Penggunaan obat tertentu yang meningkatkan kadar asam urat, terutama diuretika ( furosemida dan hidroklorotiazida )
6.  Penggunaan antibiotika berlebihan
7.  Penyakit tertentu pada darah seperti leukimia dan polisitomia
8.  Faktor lain seperti stres, diet ketat, cidera sendi, darah tinggi dan olah raga berlebihan

C. Manifestasi Klinis

 
Manifestasi klinis yang ditimbulkan pada penyakit asam urat antara lain adalah sebagai berikut:

1.  Nyeri hebat pada malam hari, sehingga penderita sering terbangun saat tidur.
2.  Saat dalam kondisi akut, sendi tampak terlihat bengkak, merah dan teraba panas. Keadaan akut biasanya berlangsung 3 hingga 10 hari, dilanjutkan dengan periode tenang. Keadaan akut dan masa tenang dapat terjadi berulang kali dan makin lama makin berat. Dan bila berlanjut akan mengenai beberapa sendi dan jaringan bukan sendi.
3.  Disertai pembentukan kristal natrium urat yang dinamakan thopi.
4.  Terjadi deformitas (kerusakan) sendi secara kronis.

Berdasarkan diagnosis dari American Rheumatism Association (ARA), seseorang dikatakan menderita asam urat jika memenuhi beberapa kriteria berikut:

1.  Terdapat kristal MSO (monosodium urat) di dalam cairan sendi.
2.  Terdapat kristal MSO (monosodium urat) di dalam thopi, di tentukan berdasarkan pemeriksaan kimiawi dan mikroskopik dengan sinar terpolarisasi.
3.  Di dapatkan 6 dari 12 kriteria di bawah ini :
a.  Terjadi serangan arthritis akut lebih dari satu kali.
b.  Terjadi peradangan secara maksimal pada hari pertama gejala atau serangan datang.
c.   Merupakan arthritis monoartikuler (hanya terjadi di satu sisi persendian).
d.  Sendi yang terserang berwarna kemerahan.
e.  Sendi metatarsophalangeal pertama (ibu jari kaki) terasa sakit atau membengkak.
f.    Serangan nyeri unilateral (di salah satu sisi) pada sendi metatarsophalangeal.
g.  Serangan nyeri unilateral pada sendi tarsal (jari kaki).
h.  Adanya topus (Deposit besar dan tidak teratur yang berasal dari natrium urat) di kartilago artikular (tulang rawan sendi) dan kapsula sendi.
i.    Terjadinya peningkatan kadar asam urat dalam darah (lebih dari 7mg/dL).
j.    Pada gambaran radiologis tampak pembengkakan sendi secara asimetris (satu sisi tubuh saja).
k.   Pada gambaran radiologis tampak kista subkortikal tanpa erosi.
l.    Hasil kultur cairan sendi menunjukkan nilai negative. Bengkak, kemerahan, panas dan rasa nyeri yang hebat pada sendi metatarsofalangeal ibu jari kaki (podagra) adalah tanda khas gout.

D. Patofisologi

Peningkatan kadar asam urat di dalam darah dapat disebabkan oleh pembentukan berlebihan atau penurunan eksresi asam urat, ataupun keduanya.

Asam urat adalah produk akhir metabolisme purin. Secara normal metabolisme purin menjadi asam urat dapat diterangkan sebagai berikut:

Sintesis purin melibatkan dua jalur yaitu jalur de novo dan jalur penghematan (salvage pathway).

1.  Jalur de novo melibatkan sintesis purin dan kemudian asam urat melalui prekursor nonpurin. Substrat awalnya adalah ribosa-5 fosfat yang diubah melalui serangkaian zat antara menjadi nukleotida pirin (asam inosinat, asam guanilat, asam adenilat).
Jalur ini dikendalikan oleh serangkaian mekanisme kompleks, dan terdapat beberapa enzim yang mempercepat reaksi yaitu: 5-fosforibosilpirofosfat (PRPP) sintetase dan amidofosforibosiltranfarase (amido-PRT).

2.  Jalur penghematan adalah jalur pembentukan nukleotida purin melalui basa purin bebasnya, pemecahan asam nukleat, atau asupan makanan. Jakur ini melalui zat-zat perantara seperti jalur de novo.

Basa purin bebas (adenin, guanin, hipoxantin) berkondensasi dengan PRPP untuk membentuk prekursor nukleotida purin dari asam urat. Reaksi ini dikatalisis oleh dua enzim : hipoxantin guanin fosforibosiltransferase (HGPRT) dan adenin fosforibosiltransfferase (APRT).

Asam urat terbentuk dari hasil metabolisme purin akan difiltrasi secara bebas oleh glomerulus dan diresorpsi di tubulus proksimal ginjal. Sebagian kecil asam urat yang diresorpsi kemudian diekskresikan di nefron distal, dan dikeluarkan melalui urin.

E.  Diagnosis Medik

Diagnosa asam urat dilakukan dengan pemeriksaan lewat laboratorium, pemeriksaan radiologis, dan cairan sendi. Selain itu, kita juga bisa melakukan diagnosa melakukan diagnosa melalui roentgen.

1.  Pemeriksaan Laboratorium

Seseorang dikatakan menderita asam urat ialah apabila pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar asam urat dalam darah diatas 6 mg/dL untuk pria dan lebih dari 5,5 mg/dL untuk wanita.

Bukti adanya kristal urat dari cairan sinovial atau dari topus melalui mikroskop polarisasi sudah membuktikan, bagaimanapun juga pembentukan topus hanya setengah dari semua pasien dengan gout.

Ureum dan kreatinin diperiksa untuk mengetahui normal dan tidaknya fungsi ginjal.
Sementara itu pemeriksaan profil lemak darah dijadikan penanda ada dan tidaknya gejala aterosklerosis.

2.  Pemeriksaan Cairan Sendi

Pemeriksaan cairan sendi dilakukan di bawah mikroskop. Tujuannya ialah untuk melihat kristal urat atau monosodium urate (kristal MSU) dalam cairan sendi.

Untuk melihat perbedaan jenis arthritis yang terjadi perlu dilakukan kultur cairan sendi. Dengan mengeluarkan cairan sendi yang meradang maka pasien akan merasakan nyeri sendi yang berkurang.

Dengan memasukkan obat ke dalam sendi, selain menyedot cairan sendi tentunya, maka pasien akan lebih cepat sembuh.

3.  Pemeriksaan dengan Roentgen

Pemeriksaan roentgen perlu dilakukanuntuk melihat kelainan baik pada sendi maupun pada tulang dan jaringan di sekitar sendi.

F.  Penatalksanaan

1. Kolkisin adalah suatu agen anti radang yang biasanya dipakai untuk mengobati serangan gout akut, dan untuk mencegah serangan gout Akut di kemudian hari. Obat ini juga dapat digunakan sebagai sarana diagnosis.

2.  Pengobatan serangan akut biasanya tablet 0,5 mg setiap jam, sampai gejala-gejala serangan Akut dapat dikurangi atau kalau ternyata ada bukti timbulnya efek samping gastrointestinal. Dosis maksimurn adalah 4-8 rng, tergantung dari berat pasien bersangkutan.

3. Efek samping :Beberapa pasien mengalami rasa mual yang hebat, muntah-muntah dan diarhea, dan pada keadaan ini pemberian obat harus dihentikan.

4.  Gejala-gejala pada sebagian besar pasien berkurang dalam waktu 10-24 jam sesudah pemberian obat. Kolkisin dengan dosis 0,5-2 mg per hari ternyata cukup efektif untuk mencegah serangan gout berikutnya secara sempurna atau mendekati sempurna.

5.  Penggunaan kolkisin setiap hari cenderung memperingan episode gout berikutnya, kalau memang serangan gout terjadi lagi. Penggunaan kolkisin jangka panjang tak memperlihatkan efek samping yang berat.

6.  Fenilbutazon, suatu agen anti radang, dapat juga digunakan unluk mengobati artritis gout akut. Tetapi, karena fenilbutazon menimbulkan efek samping, maka kolkisin digunakan sebagai terapi pencegahan. Indometasin juga cukup efektif.

7.  Terdapat tiga obat lain yang berguna untuk terapi penunjang atau terapi pencegahan.

a.       Alopurinol dapat mengurangi pembentukan asam urat. Dosis 100-400 mg per hari dapat menurunkan kadar asam urat serum.
b.      Probenesid dan Sulfinpirazin merupakan agen urikosurik, artinya mereka dapat menghambat proses reabsorpsi urat oleh tubulus ginjal dan dengan dernikian meningkatkan ekskresi asam urat.

8.    Hindari makanan yang mengandung kadar purin yang tinggi. Di antara jenis makanan ini termasuk jerohan seperti hati, ginjal, roti manis dan otak. Sardin dan anchovy (ikan kecfi semacarn haring) sebaiknya dibatasi.

9.    Untuk membuang tofi yang besar, terutama kalau tofi mengganggu gerakan sendi, maka dilakukan pembedahan.

G. Proses Keperawatan

1.  Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan. Untuk itu, diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam menangani masalah klien sehingga dapat memberi arah terhadap

a. Anamnesis dilakukan untuk mengetahui: Identitas meliputi nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama, bahasa yang digunakan, status perkawainan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, nomor register, tanggal masuk rumah sakit, dan diagnosis medis.

Pada umunya keluhan utama artritis reumatoid adalah nyeri pada daerah sendi yang mengalami masalah.Untuk mempperoleh pengkajian yang lengkap tentang nyeri klien, perawat dapat menggunakan metode PQRST.

1) Provoking incident : Hal yang menjadi faktor  presipitasi nyeri adalah peradangan.
2)  Quality Of Painn: Nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien bersifat menusuk.
3)  Region,Radition,Relief : Nyeri dapat menjalar atau menyebar , dan nyeri terjadi di sendi   yang mengalami masalah.
4)  Severity(scale) Of Pain: Nyeri yang dirasakan ada diantara 1-3 pada rentang skala pengukuran 0-4.
5)  Time : Berapa lama nyeri berlangsung,kapan,apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.

b.  Riwayat penyakit sekarang
Pengumpulan data dilakukan sejak muncul keluhan dan secara umum, mencakup awitan gejala, dan bagaimana gejala tersebut berkembang. Penting di tanyakan berapa lama pemakaian obat analgesic, alopurinol.

c.   Riwayat penyakit dahulu
Pada pengkajian ini, ditemukan kemungkinan penyebab yang mendukung terjadinya gout. Masalah lain yang perlu ditanyakan adalah adakah klien pernah dirawat dengan masalah yang sama. Kaji adanya pemakaian alcohol yang berlebihan dan penggunaan obat diuretic.

d.  Riwayat penyakit keluarga
Kaji adakah keluarga dari genarasi terdahulu mempunyai keluhan yang sama dengan klien karena penyakit gout berhubungan dengan genetik. Ada produksi/sekresi asam urat yang berlebihan yang tidak di ketahui penyebabnya.

e.  Riwayat psikososial
Kaji  respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya  dan penyakit klien dalam keluarga dan masyarakat. Respon yang di dapat meliputi adanya kecemasan individu dengan rentang variasi tingkat kecemasan yang berbeda dan berhubungan erat dengan adanya sensasi nyeri, hambatan mobilitas fisik akibat respon nyeri, dan ketidaktahuan akan program pengobatan dan prognosis penyakit  serta peningkatan asam urat terhadap sirkulasi.
Adanya perubahan peran dalanm keluarga akibat adanya  nyri dan hambatan mobilitas fisik memberikan respon terhadap konsep diri yang maldaptif.

f.    Pengkajian Berdasarkan Pola
1)  Pola Presepsi dan pemeliharaan kesehatan
a)  Keluhan utama nyeri pada pada sendi
b)  Pencegahan penyerangan dan bagaimana cara mengatasi atau mengurangi serangan.
c)  Riwayat penyakit Gout pada keluarga
d)  Obat utntuk mengatasi adanya gejala

2)  Pola nutrisi dan metabolic
a)  Peningkatan berat badan
b)  Peningkatan suhu tubuh
c)  Diet

3)  Pola aktifitas dan Latihan
a)  Respon sentuhan pada sendi dan menjaga sendi yang terkena

4)  Pola presepsi dan konsep diri
a)  Rasa cemas dan takut untuk melakukan pergerakan
b)  Presepsi diri dalam melakukan mobilitas

g.  Pemeriksaaan fisik

1)  B1 (Breathing)
a)  Inspeksi: bila tidak melibatkan sistem pernapasan,biasanya ditemukan kesimetrisan rongga dada, klien tidak sesak napas, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan.
b)  Palpasi: taktil fremitus seimbang kiri dan kanan
c)  Perkusi : Suara resona pada seluruh lapang paru
d)  Auskultasi : suara napas hilang/melemah pada sisi yang sakit, biasanya di dapat suara ronki atau mengi.

2)  B2 (Blood): pengisian kapiler kurang dari 1 detik,sering ditemukan keringat dingin,dan pusing karena nyeri.

3)  B3 (Brain): kesadaran biasanya kompos mentis
a)  Kepala dan wajah                        : ada sianosis
b)  Mata                                : sclera biasanya tidak ikterik
c)  Leher                                : biasanya JVP dalam batas normal

4)  B4 (Blader) : produksi urin biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan pada sistem perkemihan, kecuali penyakit gout sudah mengalami komplikasi ke gijal berupa pielonefritis, batu asam urat, dan GGK yang akan menimbulka perubahan fungsi pada sistem ini.

5)  B5 (bawel) : kebutuhan eliminasi pada kasus gout tidak ada gangguan, tetapi perlu dikaji frekuensi, konsistensi,warna, serta nbau feses. Selain itu perlu di kaji frekiensi, konstitensi, warna, bau, dan jumlah urine. Klien biasanya mual, mengalami nyeri lambung,dan tidak ada nafsu makan, terutama klien yang memakai obat analgesik dan anti hiperurisemia.

6)  B6 (Bone) : pada pengkajian ini ditemukan
a)  Look: keluhan nyeri sendi uyang merupakan keluhan utama yang mendorong klien mencari pertolongan (meskipun sebelumnya sendi sudah kaku dan berubah bentuknya).
b)  Feel: ada nyeri tekan pada sendi yang membengkak
c)  Move: hambatan gerahan sendi biasanya semakin memberat

2.  Diagnosa Keperawatan

a.  Nyeri akut berhubungan dengan agen-agen penyebab cedera.
b.  Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kaku sendi dan kontraktur.
c.   Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan informasi.
         
3.  Perencanaan

No
Diagnosa
Kriteria Hasil
Intervensi
1.
Nyeri akut berhubungan dengan agen-agen penyebab cedera
Pasien mampu menjelaskan kadar dan karakteristik nyeri
1. Kaji  nyeri pasien menggunakan metode PQRST.
R/ Memberikan informasi sebagai dasar dan pengawasan keefektifan intervensi.

2.   Bantu pasien untuk mendapatkan posisi yang nyaman.
R/ Untuk menurunkan ketegangan atau spasme otot dan mendistribusikan kembali tekanan pada bagian tubuh.

3.   Lakukan tindakan kenyamanan untuk meningkatkan relaksasi, seperti pemijatan, mengatur posisi, dan teknik relaksasi.
R/ Membantu pasien mwmfokuskan pada subjek pengurangan nyeri.

4.   Cegah agar tidak terjadi iritasi pada tofi, misalnya menggunakan sepatu yang sempit dan terantuk benda yang keras
R/ Bila terjadi iritasi maka akan semakin nyeri.

5.   Berikan obat-obatan yang dianjurkan sesuai indikasi
R/ untuk mengurangi nyeri yang adekuat.
2.
Hambatan mobillitas fisik berhubungan dengan kaku sendi dan kontraktur

Pasien mampu mempertahankan kekuatan otot dan ROM sendi

1.   Melakukan latihan ROM untuk sendi yang terkena gout jika memungkinkan
R/ Tindakan ini mencegah kontraktur sendi dan atrofi otot.

2.   Miringkan dan atur posisi pasien setiap 2 jam sekali pada pasien tirah baring
R/ Tindakan ini mencegah kerusakan kulit dengan mengurangi tekanan.

3.   Pantau kemajuan dan parkembangan kemampuan klien dalam melakukan aktivitas
R/ untuk mandeteksi perkembangan klien.

4.   Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.
R/ kemampuan mobilisasi ekstremitas dapat ditingkatkan dengan latihan fisik.

5.   Ajarkan pasien atau anggota keluarga tentang latihan ROM
R/ Untuk membantu persiapan pemulangan pasien.
3.
Defisit pengetahuan berhubungan kurang pajanan informasi
Pasien mampu mengkomunikasikan apa yang dirasakan dan yang diajarkan.
1.    Kaji kemampuan pasien dalam mengungkapkan intruksi yang diberikan
R/ Mengetahui respond an kemampuan kognitif pasien dalam menerima informasi.

2.    Berikan jadwal obat yang di gunakan meliputi nama obat, dosis, tujuan dan efek samping
R/ Tindakan ini dapat meningkatkan koordinasi dan kesadaran pasien terhadap pengobatan yang teratur.

3.    Berikan informasi mengenai alat-alat bantu yang mungkin dibutuhkan
R/ mengurangi paksaan untuk menggunakan sendi dan memungkinkan individu untuk ikut serta secara lebih nyaman dalam aktivitas yang dibutuhkan.

4.    Jelaskan pada pasien menegenai penyakit yang dialami.
R/ memberikan pengetahuan pasien sehingga dapat menghindari terjadinya serangan berulang.

5.    Dorong pemasukan diet rendah purin dan cairan yang adekuat
R/ meningkatkan penyembuhan.

4.  Evaluasi
a.  Discharge Planning
Selama dirawat di Rumah Sakit, pasien sudah dipersiapkan untuk perawatan dirumah. Beberapa informasi penyuluhan pendidikan yang harus sudah dipersiapkan/diberikan pada keluarga pasien ini adalah:
1)    Pengertian dari penyakit Arthritis gout.
2)    Penjelasan tentang penyebab penyakit.
3)    Memanifestasi klinik yang dapat ditanggulangi/diketahui oleh keluarga.
4)    Penjelasan tentang penatalaksanaan yang dapat keluarga lakukan.
5)    Klien dan keluarga dapat pergi ke Rumah Sakit/Puskesmas terdekat apabila ada gejala yang memberatkan penyakitnya.
6)    Keluarga harus mendorong/memberikan dukungan pada pasien dalam menaati program pemulihan kesehatan.
7)    Anjurkan pasien untuk diet rendah purin.



Daftar Pustaka

Helmi, Zairin Helmi. 2011. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Cetakan kedua. Jakarta:  Salemba Medika.

Kozier, dkk (2011). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik edisi 7 volume 2. Jakarta: EGC.

McQueen, F.M., Reeves, Q., & Dalbeth, N. (201). New insights into an old disease: advanced imaging in the diagnosis and management of gout. Postgrad Med J 2013;89:87–93. doi:10.

Rasjad, Chairuddin. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Edisi 3. Cetakan kelima.Jakarta : Yarsif Watampone.

Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Volume 3. Jakarta : EGC.

My Instagram